Rabu, 30 November 2011

Anxiety (Kecemasan) Berawal dari Perasaan Benci di Masa Lalu

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,
Satu lagi kasus Anxiety yang berhasil kami tangani.

Awalnya Beliau (seorang ibu-ibu paruh baya) mengeluhkan penyakit Psikosomatis yang selama ini Beliau derita. Gejala sakit fisik yang Beliau alamai adalah sering sesak nafas, atau terkadang asam lambung meningkat drastis, disertai dengan detak jantung yang meningkat.

Kemudian dalam proses Intake Interview yang sudah langsung menggunakan teknik Meta Model dan Cartesian Logic (Bagian dari ilmu Neuro-Linguistic Programming), diperoleh keterangan bahwa timbulnya rasa kecemasan tersebut dimulai ketika Beliau diharuskan memilih antara beli rumah atau menginvestasikan untuk pendidikan anak semata wayangnya. Dan terulang kembali ketika sang Ibu sakit dengan gejala kecemasan yang sama.

Karena belum melihat pola signifikan yang berulang, saya minta Beliau menceritakan kehidupan keluarganya, dan ternyata Beliau mengaku bahwa selama ini (hingga berputra 1) Beliau belum bisa mencintai suaminya.

Subhanallah.......benar-benar mengherankan......sehingga saya minta Beliau menceritakan masa lalunya.

Dan ditemukan fakta bahwa sejak ayahnya menceraikan ibunya, Beliau menjadi sangat membenci ayahnya, bahkan semakin meluas menjadi benci terhadap semua laki-laki.Setiap kali berpacaran di masa SMA hingga kuliah, Beliau sering memutuskan pacarnya tanpa sebab yang jelas. Intinya hanya ingin menyakiti perasaan laki-laki yang sudah sangat cinta padanya. (Ini menurut pengakuan Beliau sendiri).

Dan akhirnya sampai usia 33 tahun Beliau belum mendapatkan jodoh. Dalam doanya Beliau menyatakan bahwa siapapun laki-laki terakhir yang mau menikahinya, akan langsung dia terima. Alhamdulillah.....doanya dikabulkan, datanglah seorang laki-laki datang melamar dan terjadilah pernikahan tersebut.

Namun, dikarenakan rasa benci pada laki-laki telah menjadi program Bawah Sadarnya, maka dalam kehidupan rumah tangganya pun Beliau belum mendapatkan kepuasan. Walaupun akhirnya takdir berbicara lain, lahirlah seorang anak laki-laki.

Lagi-lagi, Allah menguji dengan mengamanahkan seorang Laki-laki kecil. Dan program kebencian itu bekerja lagi, Beliau hanya sanggup menyusui anaknya dengan ASI hanya selama 1 bulan. Bahkan menurut keterangan Beliau, anaknya lebih sering memanggil-manggil ayahnya ketika bangun tidur.

Parahnya lagi, Beliau sampe melegitimasi tindakan kebencian secara Bawah Sadar ini dengan menggunakan Logika Pikiran Sadar dengan mengatakan, " Karena saya merasa gak pantes jika laki-laki sibuk di dapur dan mengurus rumah, maka saya biarkan anak saya bermain2 dengan bapaknya, dan saya tetap di dapur serta ngurus rumah".

Setelah menyadari semuanya, kami sepakat untuk melakukan Reinstall Program Bawah Sadar dengan menggunakan teknik Forgiveness Therapy dan Reframming Therapy.

Alhamdulillah.......sekarang Beliau lebih plong dan mulai bisa bernapas lega.........

Semoga cerita ini memberi banyak manfaat untuk saya pribadi dan Sidang Pembaca semuanya, bahwa Allah akan terus menguji hanbaNya hingga hambaNya lulus dan meningkat maqamnya. Kemudian diuji kembali untuk maqam berikutnya hingga kita dipanggil menghadapNya dengan maqam dan bekal amal tertinggi dan terbaik

Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyab luwakum ayyukum 'ahsanu 'amala (QS Al Mulk : 2)

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Selasa, 01 November 2011

Percaya Diri yang Melenakan (dari kisah Avatar, The Last Airbender)

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Ketika segala kemampuan dan keunggulan kita mendapatkan pengakuan dari banyak pihak, maka sesungguhnya kita telah mendapatkan "Labelling" positif yang merupakan sugesti untuk Pikiran Bawah Sadar kita.

Sehingga semakin percaya dirilah kita, yang RASA PD tersebut menyebar ke seluruh sel di tubuh kita. Selanjutnya Vibrasi RASA PD tersebut terpancar keluar tubuh kita dan, sesuai Hukum Fisika Quantum, akan menarik vibrasi yang sama sehingga kita akan menarik lebih banyak pengakuan dan pujian dari banyak pihak.

Bukankah itu bagus? O iya, pada tahap ini sudah cukup bagus. 

Terus apa selanjutnya? Good question..!! Karena justru awareness (kewaspadaan) kita terhadap kejadian selanjutnyalah yang penting.

Teringat akan sebuah kisah Film Kartun "Avatar The Last Airbender".

Dikisahkan bahwa Kerajaan Api yang dipimpin oleh seorang Raja Api bernama Ozai berusaha menguasai seluruh dunia, yang terdiri dari 3 suku yang lain, yaitu Suku Pengendali Air, Suku Pengelana Udara, dan Bangsa Pengendali Bumi.

Peperangan telah berlangsung selama kurang lebih 100 tahun, dan yang bisa menghentikan hanyalah Sang Pengendali 4 Elemen yang telah menghilang selama 100 tahun, yaitu Sang Avatar.

Pada mulanya, 4 Bangsa Pengendali (Air, Api, Udara, Bumi) hidup dalam kedamaian. Namun ketika Negara Api mulai banyak melahirkan penemuan alat-alat canggih yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, seluruh bangsa semakin mengakui keunggulan dan kecanggihan serta kemanfaatan alat-alat tersebut.

Nah, inilah awal dari peperangan tersebut.........Kok bisa?

Ya, karena di puncak sanjungan dan pengakuan tersebut, Negara Api yang pada waktu itu dipimpin seorang Raja Ambisius bernama Sozin, mulai timbul ide yang sangat PERCAYA DIRI. Yaitu ingin membuat bangsa-bangsa lain merasakan kesejahteraan yang juga dirasakan oleh Negara Api, akibat dari penemuan-penemuannya. Namun kenyataan yang terjadi adalah PENJAJAHAN....!!!

Bagaimana alurnya sehingga dari PERCAYA DIRI berubah menjadi PEMBATASAN KEMERDEKAAN terhadap bangsa lain?

Karena Negara Api berpendapat, "Bergabung saja dengan Negara Api, negara yang sudah diakui bisa menciptakan alat2 canggih untuk kesejahteraan penduduknya". Dan ketika bangsa lain mengatakan, "Maaf, saya tidak mau bergabung". Maka dinyatakan PERANG....!!

Sabda Rasulullah Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, "Salah satu tanda kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain".

Semoga ini menjadi renungan kita bersama (dan saya terutama) dalam menyikapi PENGAKUAN dan PUJIAN orang yang datang kepada kita. 

Karena di satu sisi bisa kita manfaatkan dengan meng-Amplify-nya sehingga membuat kita makin PERCAYA DIRI, namun di sisi lain kita perlu waspada agar PERCAYA DIRI tidak berganti menjadi keSOMBONGan yang menghancurkan, bagaikan hancurnya kayu oleh api.

Wallahu a'lam bishshowwab.....

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh