Assalaamu'alaikum wr.wb.
Kali ini kami mendapatkan kesempatan untuk meringankan beban derita seorang ibu-ibu berusia 68 tahun yang menurut penuturan putra-putrinya menderita Maag Kronis sehingga saking tidak tahannya membuat Beliau ingin sekali segera wafat saja. Padahal tahun depan (2011) insya Allah akan berangkat naik haji ke Tanah Suci Mekkah Al Mukarromah.
Keinginan untuk segera wafat inilah yang menyebabkan putra-putrinya khawatir dan ingin segara dikuatkan kembali niat hidupnya.
Singkat cerita, saya dijemput dari Klinik Hypnotherapy "METAMORFOSA" tanggal 13 September 2010 pukul 09.00 menuju ke kediaman sang ibu ini di daerah Sleman Jogjakarta, dan dalam perjalanan tersebut saya mencoba mengumpulkan informasi melalui putra menantunya dan cucunya.
Sesampainya di rumah kediaman sang Ibu tersebut, kembali saya kumpulkan informasi tambahan dari putra-putrinya yang lain. Kemudian ditemuilah saya oleh sang Ibu tersebut di ruang tamunya. Kami terlibat pembicaraan yang santai tetapi cukup serius, hingga pada akhirnya terlontar sebuah peristiwa yang membuat para putra-putrinya kaget.
Yaitu suatu kejadian yang sudah 4 tahun yang lalu, namun ternyata masih sangat sempurna dalam ingatan Beliau dan diceritakan kembali dengan bercucuran air mata. Setelah dirasa cukup memcurahkan seluruh pikiran yang selama ini membebani Beliau, dimulailah sesi terapi di kamar tidur Beliau.
Dalam sesi terapi kali ini, saya mencoba merelaksasikan secara total seluruh tubuh Beliau dan saya ajak Beliau mengimajinasikan sebuah tempat nyaman (yang menurut pengakuan Beliau sendiri adalah di pantai) dan saya minta Beliau untuk memvisualisasikan saat paling membahagiakan di pantai tersebut bersama orang-orang yang Beliau cintai.
Setelah sudah cukup relaks dan bersenang-senang di alam bawah sadarnya, saya melakukan Self Healing Therapy. Dimana dalam terapi tersebut saya meminta Beliau untuk menyentuh bagian-bagian tubuhnya mulai dari kepala hingga ke perutnya, sambil mensyukuri betul karunia Allah berupa organ-organ tubuh yang ada di dalamnya.
Ketika tangannya menyentuh perut, Beliau menangis. Saya amplify lagi perasaan Beliau dengan mensugestikan bahwa dengan keluarnya air mata tersebut maka ikut keluar pula segala emosi dan perasaan yang mengganjal selama ini. Dan sugesti berikutnya adalah mulai sekarang dan seterusnya setiap kali timbul pikiran yang memberatkan maka rasa syukurlah yang akan menyertainya.
Akhirnya setelah saya meminta Beliau "berkomunikasi" dengan lambung Beliau sendiri (dalam imajinasi pikiran bawah sadarnya), maka tangis rasa sakit maagnya udah mulai mereda. Lalu saya akhiri sesi terapi ini dengan metafor (cerita) tentang nikmat Allah yang telah berkenan mengundang Sang Ibu sebagai tamuNya.
Kemarin, tanggal 29 September (2 minggu setelah terapi) saya mencoba menanyakan kondisi Beliau kepada putranya dan begini jawaban smsnya,"Perkembangan bagus sekali, tidak ada indikator kehilangan akal dan periang, terima kasih banget, malah ngajak piknik segala."
Alhamdulillah........
Wassalaamu'alaikum wr.wb.
1 komentar:
Wow, sebuah pengalaman yang berharga. Banyak hal yang saya dapatkan dari blog ini, makasih mister Gathut udah bersedia share pengalamannya...
Posting Komentar