Jumat, 05 November 2010

Bencana Gunung Merapi di Jogjakarta

Assalaamu'alaikum wr.wb.

Sidang Pembaca yang berkelimpahan,

Sejak meletusnya Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010, kemarin hari Kamis malam (Malam Jumat) adalah letusan yang terbesar (menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Bapak Surono) bahkan terbesar sejak tahun 1870......Subhanallah!!!

Sehingga tepat pada pagi harinya, pukul 3.30 dini hari, TV One sudah ramai menyiarkan kepanikan warga yang berusaha menjauh dari Daerah Rawan Bencana III (radius 15 km dari Gunung Merapi). Di satu sisi pemberitaan yang cepat dan akurat benar-benar membantu warga masyarakat dan aparat serta para relawan untuk melakukan tanggap darurat.
Namun di sisi lain, ketika pemberitaan tersebut sangat fokus, bahkan berjam-jam memberitakan kepanikan dan banyaknya korban yang berjatuhan, maka persepsi penonton menjadi berbeda-beda dan cenderung ikut-ikutan panik, walaupun belum tahu berita yang sebenarnya.

Alhamdulillah memang, dengan pemberitaan yang sangat lengkap dan berulang-ulang, membuat solidaritas warga masyarakat yang lain (di luar DIY dan Magelang, Boyolali, Klaten) menjadi tersulut sehingga cepat dalam menggalang bantuan.
Di sisi lain, menimbulkan kepanikan yang menular sehingga mengira seluruh penduduk DIY sedang dalam keadaan genting, sehingga kami dibanjiri telepon dan SMS dari orang tua, teman dan kolega yang menanyakan kapan kami mengungsi dan mengungsi kemana.

Terus terang, dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah, sampai tiba waktu sholat Jumat tadi siang (5 November 2010), minimal di daerang Papringan, Demangan dan jalan Gejayan/jalan Affandi masih beraktifitas seperti biasa. Memang jalanan sangat berdebu, bahkan lebih tebal dari letusan Gunung Merapi yang pertama kali, sampai-sampai sejauh mata memandang seakan-akan ada ratusan kuda berpacu di tanah berpasir, kabut coklat berdebu. Sangat mengganggu mata jika mengendarai sepeda motor.

Dan Alhamdulillah sekarang (sejak Maghrib tadi) Jogja sudah diguyur hujan sehingga dampak dari debu vulkanik tersebut mulai berangsur-angsur berkurang.

Just it !! Dan kami berdoa kepada Allah SWT, semoga HANYA ITU saja ujian dan teguran bagi kami.......

Apalagi kepanikan tersebut ditambah lagi dengan tersebarnya SMS tentang bahayanya menghirup abu vulkanik

"Info penting. Abu vulkanik komposisinya SI o2/ silika, mirip bahan industri kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus tetapi jika dilihat dengan mikroskopik tepi dan ujungnya runcing. Jika terhirup akan merobek jaringan paru-2, jika terkena mata bisa merusak mata. Pakailah masker."

Untuk menjawab SMS ini, berikut saya kutipkan informasi dari detikHealth.com

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Dr Agus Dwisusanto, SpP ketika dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010), mengatakan istilah paru-paru sobek tidak dikenal dalam ilmu kedokteran. Yang ada adalah silikosis, yakni penumpukan debu silika yang bisa memicu fibrosis atau kekakuan jaringan paru-paru.

"Ada 2 faktor yang memicu terjadinya silikosis. Pertama, konsentrasi debu yang terhirup sangat banyak. Kedua, jangka waktunya harus sangat panjang. Biasanya terjadi pada pekerja tambang yang sudah bekerja 4 sampai 5 tahun," ungkap Dr Agus.

Menurutnya, setiap bebatuan sebenarnya mengandung silika dalam bentuk terikat dan akan terlepas ketika hancur menjadi debu. Partikel-partikel dalam bentuk bebas itu hanya bisa masuk ke dalam jaringan paru-paru jika ukurannya sangat kecil, yakni di bawah 10 mikron.

Bukan saja para pengungsi Gunung Merapi, pekerja tambang, tukang bangunan dan karyawan industri juga rentan menghirup debu silika. Apabila debu yang terhirup menumpuk di paru-paru, maka terjadi kekakuan jaringan yang sangat mengganggu sirkulasi oksigen.

Sementara pada kondisi hujan abu di Yogyakarta, Dr Agus menilai risiko untuk mengalami silikosis sangat kecil karena baru berlangsung beberapa hari. Risiko terbesar justru dampak-dampak yang sifatnya akut, seperti iritasi saluran napas, batuk-batuk dan infeksi.

SMS kedua :

"Letusan mrapi berikutnya akan mgluarkn gas bracun"

Menanggapi SMS ini, saya suka pendapat adik Angkatan saya, Andian Ari, yang mengatakan

“Ya iyalah, contohnya bau abu kan bikin hidung sakit to. Jadi gas beracunnya emang udah kita hirup sejak Sabtu kemarin”

Inilah fakta yang benar-benar terjadi di lapangan sehingga membuat panik beberapa atau bahkan sebagian orang baik di dalam mauapun diluar DIY dan sekitarnya.

Berdasarkan ilmu Hypnotherapy yang saya pahami, gelombang otak kita saling berhubungan, yang fenomena ini dinamakan Connectedness. Sehingga ketika seseorang dalam keadaan panik (level emosional cukup tinggi) maka kepanikan yang dipancarkan oleh Pikiran Bawah Sadarnya akan mempengaruhi Pikiran Bawah Sadar yang lain.

Tanpa bermaksud tidak mengindahkan atas fakta bahwa telah meninggal 58 orang (sampai tulisan ini dibuat), kami membuat tulisan ini dengan niatan untuk membroadcast (memancarkan) gelombang pikiran yang MENENANGKAN sehingga proses tanggap darurat yang sedang berlangsung bisa dilaksanakan secepat, setepat dan sebaik mungkin.

Akhirul kalam, ketenangan hanyalah milik orang-orang yang selalu berdzikir padaNya, sehingga dijanjikan oleh Allah, orang tersebut akan "Laa khaufun 'alaihim wa laa hum yahzanun" (tidak akan khawatir dan bersedih hati).

Wallahu a'lam bishshowwab
Semoga ujian dan teguran Allah SWT ini cukup segini saja dan mari kita sama-sama berlindung dari adzab Allah SWT dengan terus mendekat padaNya dan bertaubat kepadaNya, karena tiada asap tanpa api dan tiada reaksi tanpa aksi.

Mohon do'a dari Sidang Pembaca seluruhnya, agar kami yang tinggal di Jogja dan yang melihat, mendengar dan mengalami sendiri musibah ini diberikan keistiqomahan dalam bersabar dan berhusnuzhan pada Allah SWT.

Wassalaamu'alaikum wr.wb.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Pak, seberapa kuat connectedness bisa berpengaruh? Apa hal-hal yang mempengaruhi?

Gathut Satrio Winahyu, ST., MCH., CHt. mengatakan...

Banyak faktor yang mempengaruhi kuatnya Connectedness, beberapa hal adalah :
1. Niat untuk berkoneksi dengan seseorang atau banyak orang sekaligus.
2. Tingkatan emosi ketika melakukan koneksi tersebut, semakin emosional, semakin kuat. Emosional tidak selalu yang negatif (marah, sedih, kecewa, dll) tetapi bisa juga yang positif (antusias, optimis, percaya diri, gembira, dll)
3. Level Otoritas kita.
Semakin tinggi level otoritas kita dibanding orang yang akan kita koneksikan, maka semakn kuat connectedness nya.
Contoh : Orang tua dengan anaknya, guru dengan siswanya, kyai dengan santrinya, dokter dengan pasien, dsb.
4. Frekuensi dalam berkonesi. Semakin sering kita berusaha berkoneksi (berulang2) maka semakin terasa.
5. Teknik.

Demikian

Wallahu a'lam