Sabtu, 23 Juli 2011

HypnoParenting Seminar (PARENTING TRANSFORMATION)

Parenting Transformation in Life

By : Gathut Satrio Winahyu, ST., MCH., CHt., CM-NLP.

(Disampaikan dalam Seminar POMG SDIT Ibnu Mas’ud ,Wates, KulonProgo)

Begitu banyak dan canggih teknologi informasi yang merambah dunia pendidikan dan pergaulan kita. Sehingga mulai timbul berbagai tantangan dalam mendidik serta membersamai anak dalam membekali diri mereka menghadapi tantangan di masa depan.

Alangkah indahnya jika putra-putri kita menjadikan kita teman yang bisa dan siap dipercaya sebagai tempat curhat aktivitas dan perasaan apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Kenyataannya, begitu beragam kasus pesta seks dan pergaulan bebas yang terjadi dengan pelaku anak-anak dan remaja. Juga kasus-kasus yang berbasis narkotika. Trus, sebagai orang tua, apa yang perlu kita lakukan? Lho, kenapa harus orang tua? Kok bukan remaja dan anak-anak kita yang perlu diubah?

Perlu diketahui bahwa menurut penelitian terdapat 3 fase perkembangan anak :

1. 0 – 7 tahun : Fase Imprint (Fase dimana seorang anak melakukan copy paste terhadap apapun perilaku orang tuanya)

2. 7 – 14 tahun : Fase Modelling (Fase dimana seorang anak memodel seorang public figure)

3. 14 – 21 tahun : Fase Socializing (Fase dimana seorang remaja dan/atau menjelang dewasa memodel tidak hanya secara fisik namun juga secara value (Nilai hidup) dan cara mencari nafkah.

4. 21 – 35 tahun : Business Persona (Fase dimana seseorang sudah mendapatkan aktifitas bisnis/pekerjaan yang digemarinya).

Dapat kita pahami bahwa anak usia balita hingga remaja adalah fase imprint dan fase modelling. Fase dimana mayoritas keputusan dan tingkah laku serta kebiasaan anak-anak kita merupakan copy paste bahkan memodel orang tuanya. Sehingga setiap perilaku yang terlihat, terdengar dan terasa oleh seorang anak, mayoritas adalah karena mendapatkan contoh dari orang tuanya, baik disadari maupun tidak, oleh sang anak.

Maka yang perlu dipelajari, dipahami bahkan diamalkan oleh kita sebagai orang tua adalah :

1. Membangun Komunikasi yang Nyaman dengan Anak (Building Rapport)

Komunikasi adalah salah satu hal yang penting yang perlu ada dalam memahami, menyelami bahkan melibatkan diri dalam jalan pikiran anak. Sebagaimana orang dewasa, maka begitu banyak hal yang membuat komunikasi antara dua orang atau lebih menjadi nyaman dan aman. Hal-hal yang membuat komunikasi berjalan nyaman dan aman adalah :

a. Membangun kesamaan

Pernahkah Anda merasa nyaman bahkan aman ketika mengetahui kawan bicara Anda adalah berasal dari daerah yang sama dengan Anda?

Pernahkah Anda merasa nyaman ketika mengetahui bahwa kawan bicara Anda memiliki hobby yang sama dengan Anda?

Hal itu juga terjadi pada diri anak kita ketika hal-hal yang membuat dia tertarik ternyata Anda pun memahami sedetil mungkin.

Berarti kesamaan-kesamaan yang perlu dibangun adalah :

- Kesamaan dalam gerakan ketika berkomunikasi dengan anak Anda.

- Kesamaan dalam tinggi rendahnya nada suara Anda dengan anak Anda.

- Kesamaan topik yang menarik menurut anak Anda (menyamakan value).

b. Teknik “Yes Set”

Teknik “Yes Set” adalah sebuah teknik yang membuat kawan bicara kita untuk menyetujui apa yang kita utarakan. Untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu melontarkan pertanyaan dan/atau pernyataan yang bersifat “Universal Truth”. Contoh : “Maukah kamu menjadi anak yang berprestasi?” (dalam hal ini ‘menjadi anak yang berprestasi’ adalah suatu kebenaran/keinginan universal, artinya tidak akan ada yang tidak ingin berprestasi).

Lakukan / lontarkan pertanyaan/pernyataan yang bersifat “yes set” ini minimal 3 kali sebelum kita mengarahkan anak kita. Maka secara Unconscious (bawah sadar) insya Allah anak kita akan menyetujui kalimat-kalmat kita berikutnya.

2. Memahami Gaya Belajar (Learning Channel) dan Jenis Kecerdasan Anak kita

Dengan memahami gaya belajar, cara anak kita menangkap sebuah informasi, maka kita akan membuat anak kita merasa nyaman dengan cara kita menyampaikan informasi.

Seperti kita ketahui, bahwa Sistem Preferensi (Learning Channel/Gaya belajar) setiap anak berbeda-beda, yaitu :

a. Visual

b. Auditory

c. Kinestestik

Selain itu, kita sebagai orang tua juga perlu mengetahui jenis kecerdasan yang diminati dan yang nyaman bagi anak kita, yang kita kenal dengan Multiple Intelegence, yaitu :

a. Kecerdasan Spasial – Visual/seni

b. Kecerdasan Linguistik – Verbal/Bahasa

c. Kecerdasan Interpersonal / Hubungan

d. Kecerdasan Intrapersonal – self talk

e. Kecerdasan Musikal / Ritmik

f. Kecerdasan Natural / Alami

g. Kecerdasan Kinestetik / Badaniah

h. Kecerdasan Logika

3. Memahami Motivasi Anak dalam Bertindak (Meta Programs)

Setiap tindakan dan/atau perilaku yang dilakukan anak kita, digerakkan oleh sebuah atau lebih motivasi. Anda boleh membayangkan, seandainya kita sebagai orang tua sudah memahami motivasi apa yang mendorong anak kita melakukan sesuatu yang dia sukai.

Ada beberapa jenis Meta Program setiap orang, antara lain yaitu :

1. Toward – Away from

2. Internal – External

3. Global – Spesific

4. Random – Ordered

5. Matching – Mismatching

6. Once – Several times

7. In Time – Through Time

8. Independent – Team Player

(Dalam pertemuan kali ini hanya akan diterangkan no 1 & 2)

Dengan mengetahui motivasi yang mendorong setiap perilaku anak kita, akan memudahkan bagi kita untuk merancang program Reward – Unreward. Sehingga kita sebagai orang tua lebih bisa mendisiplinkan anak tanpa anak merasa diancam.

4. Memekakan Indera kita dalam Melihat Bahasa Tubuh Anak

Setiap kita berbicara, tubuh kita memberikan sinyal-sinyal tertentu yang secara tidak sadar, jika kawan bicara kita peka, dapat mengetahui nyaman-tidaknya kita terhadap topik yang sedang dibicarakan.

Tanda apa saja yang bisa kita tandai bahwa kawan bicara kita nyaman atau tidak dengan topik yang sedang dibicarakan :

1. Skin Color (Warna kulit)

2. Breathe (Napas)

3. Eyes Movement (Pergerakan Mata)

4. Bibir

5. Skin Tonus (kulit merona)

5. Mengeliminasi Negative Emotion dan Negative Labelling

Sebagai orang tua, perasaan dan pikiran kita memancarkan Vibrasi yang terasa kuat oleh anak-anak kita. Sehingga secara sadar atau tidak, mood kita akan mempengaruhi mood anak kita, dan sebaliknya.

Minimal ada 4 emosi negatif, yaitu :

a. Anger (marah)

b. Sadness (sedih)

c. Guilty (merasa bersalah)

d. Fear (takut)

Teknik untuk bisa berdamai dengan keempat emosi negatif tersebut diatas bisa dengan menggunakan Forgiveness Therapy dan/atau Time Line Therapy. Suatu teknik memaafkan dan mengikhlaskan segala emosi negatif sembari menemukan hikmah positif dari setiap kejadian, yang terpendam di pikiran bawah sadar.

Pada dasarnya, pilar pendidikan anak dibangun oleh 3 hal, yaitu :

1. Lingkungan / sekolah

2. Anak

3. Orang tua

Dan yang paling berpengaruh terhadap masa depan anak adalah pendidikan oleh orang tuanya. Bagaimanapun interaksi sang anak di sekolah, tetap saja mayoritas waktu adalah di rumah, dimana setiap saat sang anak bisa melihat, mendengar dan merasakan segala perilaku orang tuanya.

Ilmu Parenting ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, dan teknik-teknik dalam berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga juga akan masih banyak yang bisa diseminarkan bahkan dijadikan sebuah training. Maka sebagai orang tua yang sadar betul bahwa anak kita akan menjadi TOKOH BESAR di zamannya kelak, tidak ada cara lain kecuali hanya terus menerus “mengosongkan gelas” dalam rangka menimba ilmu mendidik anak, darimana pun, kapan pun, dengan siapapun.

Semoga bermanfaat, segala kebenaran adalah hanya dari Allah SWT, sedangkan kekurangan yang ada adalah murni keterbatasan kami, dan kami memohon ampun kepadaNya atas kekurangan ini.

Wassalaamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

1 komentar:

Hasnil Afrizal Muttaqien mengatakan...

Assalamu'alaikum.. Pak Gatut apa kabar? Temen2 Hypnotherapis jogja ada forum ngumpul tuker ilmu dan pengalaman g? Pengen banget, cz lama-lama pasien juga masalahnya kompleks.