Rabu, 30 November 2011

Anxiety (Kecemasan) Berawal dari Perasaan Benci di Masa Lalu

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,
Satu lagi kasus Anxiety yang berhasil kami tangani.

Awalnya Beliau (seorang ibu-ibu paruh baya) mengeluhkan penyakit Psikosomatis yang selama ini Beliau derita. Gejala sakit fisik yang Beliau alamai adalah sering sesak nafas, atau terkadang asam lambung meningkat drastis, disertai dengan detak jantung yang meningkat.

Kemudian dalam proses Intake Interview yang sudah langsung menggunakan teknik Meta Model dan Cartesian Logic (Bagian dari ilmu Neuro-Linguistic Programming), diperoleh keterangan bahwa timbulnya rasa kecemasan tersebut dimulai ketika Beliau diharuskan memilih antara beli rumah atau menginvestasikan untuk pendidikan anak semata wayangnya. Dan terulang kembali ketika sang Ibu sakit dengan gejala kecemasan yang sama.

Karena belum melihat pola signifikan yang berulang, saya minta Beliau menceritakan kehidupan keluarganya, dan ternyata Beliau mengaku bahwa selama ini (hingga berputra 1) Beliau belum bisa mencintai suaminya.

Subhanallah.......benar-benar mengherankan......sehingga saya minta Beliau menceritakan masa lalunya.

Dan ditemukan fakta bahwa sejak ayahnya menceraikan ibunya, Beliau menjadi sangat membenci ayahnya, bahkan semakin meluas menjadi benci terhadap semua laki-laki.Setiap kali berpacaran di masa SMA hingga kuliah, Beliau sering memutuskan pacarnya tanpa sebab yang jelas. Intinya hanya ingin menyakiti perasaan laki-laki yang sudah sangat cinta padanya. (Ini menurut pengakuan Beliau sendiri).

Dan akhirnya sampai usia 33 tahun Beliau belum mendapatkan jodoh. Dalam doanya Beliau menyatakan bahwa siapapun laki-laki terakhir yang mau menikahinya, akan langsung dia terima. Alhamdulillah.....doanya dikabulkan, datanglah seorang laki-laki datang melamar dan terjadilah pernikahan tersebut.

Namun, dikarenakan rasa benci pada laki-laki telah menjadi program Bawah Sadarnya, maka dalam kehidupan rumah tangganya pun Beliau belum mendapatkan kepuasan. Walaupun akhirnya takdir berbicara lain, lahirlah seorang anak laki-laki.

Lagi-lagi, Allah menguji dengan mengamanahkan seorang Laki-laki kecil. Dan program kebencian itu bekerja lagi, Beliau hanya sanggup menyusui anaknya dengan ASI hanya selama 1 bulan. Bahkan menurut keterangan Beliau, anaknya lebih sering memanggil-manggil ayahnya ketika bangun tidur.

Parahnya lagi, Beliau sampe melegitimasi tindakan kebencian secara Bawah Sadar ini dengan menggunakan Logika Pikiran Sadar dengan mengatakan, " Karena saya merasa gak pantes jika laki-laki sibuk di dapur dan mengurus rumah, maka saya biarkan anak saya bermain2 dengan bapaknya, dan saya tetap di dapur serta ngurus rumah".

Setelah menyadari semuanya, kami sepakat untuk melakukan Reinstall Program Bawah Sadar dengan menggunakan teknik Forgiveness Therapy dan Reframming Therapy.

Alhamdulillah.......sekarang Beliau lebih plong dan mulai bisa bernapas lega.........

Semoga cerita ini memberi banyak manfaat untuk saya pribadi dan Sidang Pembaca semuanya, bahwa Allah akan terus menguji hanbaNya hingga hambaNya lulus dan meningkat maqamnya. Kemudian diuji kembali untuk maqam berikutnya hingga kita dipanggil menghadapNya dengan maqam dan bekal amal tertinggi dan terbaik

Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyab luwakum ayyukum 'ahsanu 'amala (QS Al Mulk : 2)

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Selasa, 01 November 2011

Percaya Diri yang Melenakan (dari kisah Avatar, The Last Airbender)

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Ketika segala kemampuan dan keunggulan kita mendapatkan pengakuan dari banyak pihak, maka sesungguhnya kita telah mendapatkan "Labelling" positif yang merupakan sugesti untuk Pikiran Bawah Sadar kita.

Sehingga semakin percaya dirilah kita, yang RASA PD tersebut menyebar ke seluruh sel di tubuh kita. Selanjutnya Vibrasi RASA PD tersebut terpancar keluar tubuh kita dan, sesuai Hukum Fisika Quantum, akan menarik vibrasi yang sama sehingga kita akan menarik lebih banyak pengakuan dan pujian dari banyak pihak.

Bukankah itu bagus? O iya, pada tahap ini sudah cukup bagus. 

Terus apa selanjutnya? Good question..!! Karena justru awareness (kewaspadaan) kita terhadap kejadian selanjutnyalah yang penting.

Teringat akan sebuah kisah Film Kartun "Avatar The Last Airbender".

Dikisahkan bahwa Kerajaan Api yang dipimpin oleh seorang Raja Api bernama Ozai berusaha menguasai seluruh dunia, yang terdiri dari 3 suku yang lain, yaitu Suku Pengendali Air, Suku Pengelana Udara, dan Bangsa Pengendali Bumi.

Peperangan telah berlangsung selama kurang lebih 100 tahun, dan yang bisa menghentikan hanyalah Sang Pengendali 4 Elemen yang telah menghilang selama 100 tahun, yaitu Sang Avatar.

Pada mulanya, 4 Bangsa Pengendali (Air, Api, Udara, Bumi) hidup dalam kedamaian. Namun ketika Negara Api mulai banyak melahirkan penemuan alat-alat canggih yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, seluruh bangsa semakin mengakui keunggulan dan kecanggihan serta kemanfaatan alat-alat tersebut.

Nah, inilah awal dari peperangan tersebut.........Kok bisa?

Ya, karena di puncak sanjungan dan pengakuan tersebut, Negara Api yang pada waktu itu dipimpin seorang Raja Ambisius bernama Sozin, mulai timbul ide yang sangat PERCAYA DIRI. Yaitu ingin membuat bangsa-bangsa lain merasakan kesejahteraan yang juga dirasakan oleh Negara Api, akibat dari penemuan-penemuannya. Namun kenyataan yang terjadi adalah PENJAJAHAN....!!!

Bagaimana alurnya sehingga dari PERCAYA DIRI berubah menjadi PEMBATASAN KEMERDEKAAN terhadap bangsa lain?

Karena Negara Api berpendapat, "Bergabung saja dengan Negara Api, negara yang sudah diakui bisa menciptakan alat2 canggih untuk kesejahteraan penduduknya". Dan ketika bangsa lain mengatakan, "Maaf, saya tidak mau bergabung". Maka dinyatakan PERANG....!!

Sabda Rasulullah Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wassalam, "Salah satu tanda kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain".

Semoga ini menjadi renungan kita bersama (dan saya terutama) dalam menyikapi PENGAKUAN dan PUJIAN orang yang datang kepada kita. 

Karena di satu sisi bisa kita manfaatkan dengan meng-Amplify-nya sehingga membuat kita makin PERCAYA DIRI, namun di sisi lain kita perlu waspada agar PERCAYA DIRI tidak berganti menjadi keSOMBONGan yang menghancurkan, bagaikan hancurnya kayu oleh api.

Wallahu a'lam bishshowwab.....

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh  

Sabtu, 01 Oktober 2011

Public Speaking dengan SENTUHAN RASA


Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,
Alhamdulillah, pada tanggal 26 - 28 September 2011 kemarin kami mendapat amanah untuk sharing dengan 75 orang Pemuda Kader Character Building yang merupakan delegasi/utusan/undangan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, dan berlangsung di Sheraton Mustika Hotel, Yogyakarta.

Sungguh suatu pengalaman yang membanggakan dimana kita diberi kesempatan mensharingkan Ilmu Komunikasi Massa dengan warna berbeda.

Dalam hal ini, kita mendefinisikan Outcome (result/goal/tujuan) dari Komunikasi massa adalah menimbulkan dampak positif dalam waktu yang relatif lebih lama, bahkan harapannya hingga bisa diwariskan pada generasi berikutnya (kader berikutnya). 

Sehingga berdasar ilmu Hypnotherapy dan Neuro-Linguistic Programming (NLP), penyampaian materi/konten apapun itu disampaikan dalam kondisi :
1. Gelombang otak audiens turun ke Frekuensi Alpha dan/atau Theta (kondisi relax dan khusyu'). Sehingga materi yang disampaikan bisa langsung tersimpan dalam Memory Bawah Sadar (Unconscious Mind) dan berdampak terinstall dengan relatif lebih permanen.

2. Adanya Intention (niat) yang tulus dari dalam untuk berkontribusi dalam perubahan positif apapun itu melalui materi yang disampaikan kepada Audiens.

3. Adanya Connectedness (Keterhubungan) antara Public Speaker dengan dirinya sendiri, Allah SWT dan Audiens.

Nah, inilah Jurus INTI dalam melakukan Public Speaking.

Dalam training Quantum Public Speaking pada tanggal 26 - 28 September 2011 ini juga membahas tentang teknik untuk membangkitkan Mood seketika apabila karena alasan tertentu sang Public Speaker mengalami penurunan Antusiasme, yang dinamakan teknik Anchoring.

Insya Allah dalam beberapa tulisan berikutnya, saya mengijinkan diri saya untuk menuliskan tentang Quantum Public Speaking.

Terimakasih, Jazakumullah khairan katsira, kepada seluruh peserta Training Quantum Public Speaking dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia atas segenap ilmu yang berhasil kami serap, karena sesungguhnya kamilah yang belajar begitu banyak tentang Attitude seorang Public Speaker. :) Because You're The Light and The Light is You.....

Teriring Do'a dan Salam Takzhim yang tulus dari DALAM kepada Guru kami yang telah menjadi jalan sampainya ilmu ini, Syeikh Abu Nazhifah (semoga Allah mengasihi Beliau). Semoga training ini menjadi amal jariyah Beliau. Amien

.Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh


Kamis, 18 Agustus 2011

BERUNTUNG terus.........mau ???


Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Ada pepatah Jawa yang mengatakan kurang lebih seperti ini : Sesukses-suksesnya orang Bodoh masih lebih sukses orang Pintar, dan sesukses-suksesnya orang Pintar, masih lebih sukses orang yang Beruntung.

Ini menjadi menarik......Lalu timbul pertanyaan bagaimana MENYENGAJAKAN keBERUNTUNGan?
Walaupun ada juga yang berkata bahwa BERUNTUNG, SIAL itu tidak ada, karena semuanya memenuhi hukum alamnya (Sunnatullah).
Ada juga yang berpendapat bahwa BERUNTUNG itu akan menjelang ketika ikhtiar-ikhtiar kita sudah maksimal.

Bagaimana sesungguhnya? Di ranah mana keBERUNTUNGan ini sebenarnya?

Jika merujuk pada Al Qur'an Surat Al Mu'minun ayat 1 - 11, maka syarat-syarat Orang Yang Beruntung ada 7 yaitu :
1. Orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya
2. Orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna
3. Orang-orang yang menunaikan zakat (menurut saya, dalam hal ini termasuk infak dan shadaqah)
4. Orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki
5. Orang-orang yang memelihara amanah-amanah yang dipikulnya
6. Orang-orang yang menunaikan janjinya
7. Orang-orang yang memelihara sholatnya


Subhanallah.....Sang Maha Pengatur Sunnatullah itu sendiri sudah membeberkan dengan begitu jelas syarat menjadi Orang yang Beruntung. Tinggal kita mengamati pola-pola apa saja dalam perilaku orang-orang yang BERUNTUNG itu yang bisa kita MODEL.

Syarat pertama orang yang BERUNTUNG adalah KHUSYUK dalam SHOLATnya. Pernah kami tuliskan dalam blog ini tentang SHOLAT KHUSYUK. Dan Khusyuk adalah kondisi SINGLE FOCUS yang bisa membuat seseorang TRANCE / Masuk ke kedalaman Pikiran Bawah SAdar.

Sehingga ketika kita sering mengakses Pikiran Bawah Sadar dengan cara Sholat/Berdzikir/berTafakur/berTadabbur maka insya ALLAH keBERUNTUNGan itu semakin cepat bisa kita peroleh dan berulang-ulang.

Pernahkah Anda mendengar pernyataan bahwa "Iringi Kerja Kerasmu dengan Kerja CERDAS dan KERJA IKHLAS" ?

Nah, menurut pendapat saya, KERJA CERDAS itu adalah mendekatkan diri kepada SANG PENGGENGGAM KEBERUNTUNGAN itu sendiri dengan cara-cara yang diridhoiNya, tentunya.....:)

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Satu pola untuk menyengajakan keBERUNTUNGan insya Allah sudah kita dapatkan,Alhamdulillah......

Sambil Anda membaca, merenungi dan mendalami artikel ini, ijinkan diri Anda mulai sekarang dan seterusnya untuk melakukan ritual SHOLAT KHUSYUK, dan lihat apa yang terjadi dalam kehidupan Anda.....:)

Wallahu a'alam bishshowwab

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Rabu, 17 Agustus 2011

17 Agustus ..... Kemerdekaan Kita.....!!!



Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

MERDEKA...!!!!

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Di hari Kemerdekaan yang ke-66 Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, saya hanya akan menuliskan pemaknaan "MERDEKA" dari sisi seorang Hypnotherapist.

Sudah terlalu banyak kasus yang ditangani ternyata bermuara pada ketakutan, kekhawatiran, bahkan kecemasan terhadap PERSEPSI kita sendiri.

Persepsi terhadap apa? Banyak, terhadap diri, orang lain, suatu peristiwa,maupun sebuah musibah. Begitu terbatasnya Panca Indera kita dalam menangkap setiap fenomena eksternal sehingga tidak jarang suatu kejadian dimaknai sesuai dengan PERSEPSI berdasarkan PENGALAMAN di MASA LALU.


Padahal ketika kita SALAH dalam memPERSEPSIkan suatu kejadian maka akan timbul keSALAHPAHAMan dalam menyikapi kejadian ataupun seseorang yang terlibat dalam kejadian tersebut.

MERDEKA dalam hal ini berarti adalah keTERBEBASan kita dalam memilih respons yang terbaik dalam setiap kejadian berdasarkan petunjukNya melalui Unconscious Mind kita.

KeMERDEKAan kita dalam memilih respons sangat bergantung pada keAKURATan kita dalam memPERSEPSIkan suatu kejadian atau perilaku seseorang.

Sehingga perlu muncul pertanyaan telaah seperti :
1. Dari siapa saya mendengar berita itu?
2. Apakah orang yang memberitakan sudah cukup kapabel dalam menyampaikan sesuai kenyataan?
3. Seberapa tepat berita yang sampai kepada saya?
4. Seberapa banyak informasi yang sudah dia dapatkan sehingga dia bisa menyarankan seperti ini kepada saya?
5. Apakah sudah sama hal yang dimaksud dengan pengertian yang ada sesuai pengalaman saya?
6. Apakah ini suara NAFSU atau sara HATI NURANI?
7. Bagaimana PERASAAN saya melihat, mendengar dan merasakan kejadian tersebut?

Karena dalam dunia yang sudah begitu sarat TEKNOLOGI INFORMASI, begitu banyak informasi yang bisa direkayasa untuk kepentingan pihak tertentu.

Sebagai orang MERDEKA Anda punya KUASA untuk melakukan CEK, RECEK dan KONFIRMASI atas segala informasi. Sehingga sikap dan perilaku kita menunjukkan sebagai seorang yang benar-benar MERDEKA dalam memilih.....itulah hakikat seorang MUKMIN dan seorang KHALIFAH......Wallahu a'lam.

MERDEKA...!!!!

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Senin, 15 Agustus 2011

Hati-hati dalam berkata-kata.....!!! (Teknik Feed Back Sandwich))

Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Dalam sebuah seminar tentang Releasing Therapy yang mengundang saya sebagai Pembicara, salah seorang peserta bertanya tentang seberapa besar pengaruh kata-kata seorang Guru terhadap keyakinan murid-muridnya.

Ya, tidak hanya Guru saja yang kata-katanya berpengaruh terhadap muridnya, namun juga setiap orang yang mengatakan sesuatu (mensugestikan sesuatu) kepada orang lain yang memiliki otoritas LEBIH RENDAH dibanding dirinya. Contoh, Dosen kepada mahasiswanya, Dokter kepada pasiennya, Psikolog kepada Kliennya, Kyai kepada santrinya, Jenderal kepada prajuritnya, Atasan kepada bawahannya maupun Upline kepada Downlinenya (dalam dunia MLM).

Bahkan seseorang yang lebih muda usianya tetapi diperlakukan sebagai yang "DITUAKAN" atau "DIANDALKAN" akan menjadi memiliki otoritas yang relatif tinggi dibanding yang menuakan/mengandalkannya.
Contoh, seorang yang berusia 25 tahun yang ditunjuk sebagai walikota, maka segala pembicaraanya menjadi SUGESTI yang berpengaruh terhadap orang-orang dibawahnya, walaupun orang-orang tersebut berusia lebih senior dibanding Sang Walikota.

Sehingga, sangat disarankan agar para Pemegang Otoritas ini berlaku bijak dalam berkata-kata. Lebih banyak menyamankan orang-orang yang berada dibawah otoritasnya dibandingkan.

Timbul pertanyaan, "Lalu bagaimana kita bisa menyampaikan sebuah kritikan/masukan tanpa membuat orang-orang dibawah kita merasa kurang nyaman?"

Good question.....:) (karena tanpa pertanyaan ini, maka gak ada tulisan ini....hehehe.....)

Triknya adalah........

Siaaaapp........

Tekniknya adalah dengan Teknik FEED BACK SANDWICH.........!! (Cara bacanya dengan logat ala Doraemon...:)

Sandwich kan ada 2 roti yang ditengah-tengahnya berisi daging/sayur/telur. Nah, Rotinya adalah pujian dan dagingnya adalah masukannya.

Jadi urut-urutannya sebagai berikut :
1. Berikan pujian yang memang layak diberikan kepada orang yang akan kita berikan masukan.
2. Berikan masukan dengan menggunakan kata-kata :" Yang perlu ditingkatkan adalah...."
3. Kemudian baru ditutup dengan pujian secara umum.

Contoh :
"Saya amati Bapak telah menjalankan setiap tugas dengan sempurna, tepat waktu, dan sangat bertanggung jawab (pujian ini disampaikan sesuai dengan prestasi yang memang nampak), DAN YANG PERLU DITINGKATKAN adalah agar Bapak datang ke kantor lebih tepat waktu, selebihnya SAYA BANGGA dengan Bapak."

Sampaikan Feed Back Sandwich ini dalam durasi sekitar 5 menitan atau kurang sehingga secara bawah sadar sang Bapak lebih menangkap pujiannya sedang masukannya akan langsung masuk ke bawah sadar, sehingga kemungkinan perubahannya lebih permanen dan tidak terasa (refleks).

Demikian semoga bermanfaat.

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh


Sabtu, 23 Juli 2011

HypnoParenting Seminar (PARENTING TRANSFORMATION)

Parenting Transformation in Life

By : Gathut Satrio Winahyu, ST., MCH., CHt., CM-NLP.

(Disampaikan dalam Seminar POMG SDIT Ibnu Mas’ud ,Wates, KulonProgo)

Begitu banyak dan canggih teknologi informasi yang merambah dunia pendidikan dan pergaulan kita. Sehingga mulai timbul berbagai tantangan dalam mendidik serta membersamai anak dalam membekali diri mereka menghadapi tantangan di masa depan.

Alangkah indahnya jika putra-putri kita menjadikan kita teman yang bisa dan siap dipercaya sebagai tempat curhat aktivitas dan perasaan apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Kenyataannya, begitu beragam kasus pesta seks dan pergaulan bebas yang terjadi dengan pelaku anak-anak dan remaja. Juga kasus-kasus yang berbasis narkotika. Trus, sebagai orang tua, apa yang perlu kita lakukan? Lho, kenapa harus orang tua? Kok bukan remaja dan anak-anak kita yang perlu diubah?

Perlu diketahui bahwa menurut penelitian terdapat 3 fase perkembangan anak :

1. 0 – 7 tahun : Fase Imprint (Fase dimana seorang anak melakukan copy paste terhadap apapun perilaku orang tuanya)

2. 7 – 14 tahun : Fase Modelling (Fase dimana seorang anak memodel seorang public figure)

3. 14 – 21 tahun : Fase Socializing (Fase dimana seorang remaja dan/atau menjelang dewasa memodel tidak hanya secara fisik namun juga secara value (Nilai hidup) dan cara mencari nafkah.

4. 21 – 35 tahun : Business Persona (Fase dimana seseorang sudah mendapatkan aktifitas bisnis/pekerjaan yang digemarinya).

Dapat kita pahami bahwa anak usia balita hingga remaja adalah fase imprint dan fase modelling. Fase dimana mayoritas keputusan dan tingkah laku serta kebiasaan anak-anak kita merupakan copy paste bahkan memodel orang tuanya. Sehingga setiap perilaku yang terlihat, terdengar dan terasa oleh seorang anak, mayoritas adalah karena mendapatkan contoh dari orang tuanya, baik disadari maupun tidak, oleh sang anak.

Maka yang perlu dipelajari, dipahami bahkan diamalkan oleh kita sebagai orang tua adalah :

1. Membangun Komunikasi yang Nyaman dengan Anak (Building Rapport)

Komunikasi adalah salah satu hal yang penting yang perlu ada dalam memahami, menyelami bahkan melibatkan diri dalam jalan pikiran anak. Sebagaimana orang dewasa, maka begitu banyak hal yang membuat komunikasi antara dua orang atau lebih menjadi nyaman dan aman. Hal-hal yang membuat komunikasi berjalan nyaman dan aman adalah :

a. Membangun kesamaan

Pernahkah Anda merasa nyaman bahkan aman ketika mengetahui kawan bicara Anda adalah berasal dari daerah yang sama dengan Anda?

Pernahkah Anda merasa nyaman ketika mengetahui bahwa kawan bicara Anda memiliki hobby yang sama dengan Anda?

Hal itu juga terjadi pada diri anak kita ketika hal-hal yang membuat dia tertarik ternyata Anda pun memahami sedetil mungkin.

Berarti kesamaan-kesamaan yang perlu dibangun adalah :

- Kesamaan dalam gerakan ketika berkomunikasi dengan anak Anda.

- Kesamaan dalam tinggi rendahnya nada suara Anda dengan anak Anda.

- Kesamaan topik yang menarik menurut anak Anda (menyamakan value).

b. Teknik “Yes Set”

Teknik “Yes Set” adalah sebuah teknik yang membuat kawan bicara kita untuk menyetujui apa yang kita utarakan. Untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu melontarkan pertanyaan dan/atau pernyataan yang bersifat “Universal Truth”. Contoh : “Maukah kamu menjadi anak yang berprestasi?” (dalam hal ini ‘menjadi anak yang berprestasi’ adalah suatu kebenaran/keinginan universal, artinya tidak akan ada yang tidak ingin berprestasi).

Lakukan / lontarkan pertanyaan/pernyataan yang bersifat “yes set” ini minimal 3 kali sebelum kita mengarahkan anak kita. Maka secara Unconscious (bawah sadar) insya Allah anak kita akan menyetujui kalimat-kalmat kita berikutnya.

2. Memahami Gaya Belajar (Learning Channel) dan Jenis Kecerdasan Anak kita

Dengan memahami gaya belajar, cara anak kita menangkap sebuah informasi, maka kita akan membuat anak kita merasa nyaman dengan cara kita menyampaikan informasi.

Seperti kita ketahui, bahwa Sistem Preferensi (Learning Channel/Gaya belajar) setiap anak berbeda-beda, yaitu :

a. Visual

b. Auditory

c. Kinestestik

Selain itu, kita sebagai orang tua juga perlu mengetahui jenis kecerdasan yang diminati dan yang nyaman bagi anak kita, yang kita kenal dengan Multiple Intelegence, yaitu :

a. Kecerdasan Spasial – Visual/seni

b. Kecerdasan Linguistik – Verbal/Bahasa

c. Kecerdasan Interpersonal / Hubungan

d. Kecerdasan Intrapersonal – self talk

e. Kecerdasan Musikal / Ritmik

f. Kecerdasan Natural / Alami

g. Kecerdasan Kinestetik / Badaniah

h. Kecerdasan Logika

3. Memahami Motivasi Anak dalam Bertindak (Meta Programs)

Setiap tindakan dan/atau perilaku yang dilakukan anak kita, digerakkan oleh sebuah atau lebih motivasi. Anda boleh membayangkan, seandainya kita sebagai orang tua sudah memahami motivasi apa yang mendorong anak kita melakukan sesuatu yang dia sukai.

Ada beberapa jenis Meta Program setiap orang, antara lain yaitu :

1. Toward – Away from

2. Internal – External

3. Global – Spesific

4. Random – Ordered

5. Matching – Mismatching

6. Once – Several times

7. In Time – Through Time

8. Independent – Team Player

(Dalam pertemuan kali ini hanya akan diterangkan no 1 & 2)

Dengan mengetahui motivasi yang mendorong setiap perilaku anak kita, akan memudahkan bagi kita untuk merancang program Reward – Unreward. Sehingga kita sebagai orang tua lebih bisa mendisiplinkan anak tanpa anak merasa diancam.

4. Memekakan Indera kita dalam Melihat Bahasa Tubuh Anak

Setiap kita berbicara, tubuh kita memberikan sinyal-sinyal tertentu yang secara tidak sadar, jika kawan bicara kita peka, dapat mengetahui nyaman-tidaknya kita terhadap topik yang sedang dibicarakan.

Tanda apa saja yang bisa kita tandai bahwa kawan bicara kita nyaman atau tidak dengan topik yang sedang dibicarakan :

1. Skin Color (Warna kulit)

2. Breathe (Napas)

3. Eyes Movement (Pergerakan Mata)

4. Bibir

5. Skin Tonus (kulit merona)

5. Mengeliminasi Negative Emotion dan Negative Labelling

Sebagai orang tua, perasaan dan pikiran kita memancarkan Vibrasi yang terasa kuat oleh anak-anak kita. Sehingga secara sadar atau tidak, mood kita akan mempengaruhi mood anak kita, dan sebaliknya.

Minimal ada 4 emosi negatif, yaitu :

a. Anger (marah)

b. Sadness (sedih)

c. Guilty (merasa bersalah)

d. Fear (takut)

Teknik untuk bisa berdamai dengan keempat emosi negatif tersebut diatas bisa dengan menggunakan Forgiveness Therapy dan/atau Time Line Therapy. Suatu teknik memaafkan dan mengikhlaskan segala emosi negatif sembari menemukan hikmah positif dari setiap kejadian, yang terpendam di pikiran bawah sadar.

Pada dasarnya, pilar pendidikan anak dibangun oleh 3 hal, yaitu :

1. Lingkungan / sekolah

2. Anak

3. Orang tua

Dan yang paling berpengaruh terhadap masa depan anak adalah pendidikan oleh orang tuanya. Bagaimanapun interaksi sang anak di sekolah, tetap saja mayoritas waktu adalah di rumah, dimana setiap saat sang anak bisa melihat, mendengar dan merasakan segala perilaku orang tuanya.

Ilmu Parenting ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, dan teknik-teknik dalam berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga juga akan masih banyak yang bisa diseminarkan bahkan dijadikan sebuah training. Maka sebagai orang tua yang sadar betul bahwa anak kita akan menjadi TOKOH BESAR di zamannya kelak, tidak ada cara lain kecuali hanya terus menerus “mengosongkan gelas” dalam rangka menimba ilmu mendidik anak, darimana pun, kapan pun, dengan siapapun.

Semoga bermanfaat, segala kebenaran adalah hanya dari Allah SWT, sedangkan kekurangan yang ada adalah murni keterbatasan kami, dan kami memohon ampun kepadaNya atas kekurangan ini.

Wassalaamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Kamis, 14 Juli 2011

Jual RASA, bukan jual MANTERA


Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Sidang Pembaca yang Berkelimpahan,

Dalam sebuah diskusi dengan salah seorang Hypnotherapist, dengan ringan dan tanpa tendensi apapun, dilontarkan sebuah pertanyaan dari seorang Klien.

"Bisa gak setelah selesai di-Hypnotherapy saya langsung bisa melihat perubahan dari diri saya, misalkan yang tadinya pemalu jadi langsung percaya diri dan mudah bergaul?"

Memang dalam kondisi dan situasi tertentu ada yang langsung berubah dan "tampak" perubahannya, hanya saja kadang kita, para Hypnotherapist, tidak ingat atau mungkin belum perhatian untuk menanyakan "RASA" yang dialami klien ketika seketika itu juga memperlihatkan perubahan.

Dalam training-training CLINICAL HYPNOTHERAPY ala IACH (Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist), kami seringkali mengedepankan untuk mengecek "RASA" yang timbul pasca therapy atau bahkan pasca konseling. Karena "RASA" ini begitu multitafsir dan justru menunjukkan perubahan asli yang terjadi dalam diri seseorang.

Bicara RASA perlu juga dikaitkan dengan bicara VALUE/NILAI HIDUP. Terkadang ketika terjadi perubahan sikap/perilaku pasca proses Hypnoterapy, belum disesuaikan dengan VALUE yang selama ini bersemayam di Unconscious Mind Klien. Hal ini yang menyebabkan terjadinya ketidakpermanenan perubahan, karena antara VALUE yang sudah lama tertanam dengan perubahan PERILAKU pasca Hypnotherapy belum disinkronisasikan (Alignment).

Jadi apapun teknik therapy atau tindakan intervensi yang dilakukan seorang Hypnotherapist, terutama Hypnotherapist IACH, tetap dilakukan cek terhadap RASA yang timbul dari dalam diri Klien, sehingga diperoleh kondisi CITRA DIRI yang tetap NYAMAN.

Sehingga di akhir diskusi kami, dengan tersimpulkan bahwa di IACH kita JUAL RASA bukan JUAL MANTERA.....hehehehe........:)

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh


Sabtu, 25 Juni 2011

Inner Peace, Teknik Terapi dari Film Kung Fu Panda 2



Assalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Alkisah, seekor Panda yang sudah mendapatkan ilmu Kung Fu tingkat tinggi dan bergelar DRAGON WARRIOR menemui Sang Master Kung Fu, bernama Master Shifu (seekor Tupai....atau.....Marmut ya? :) ). Sang Panda yang bernama Po itu menemui Sang Master yang sedang dalam kondisi berkontemplasi. Kemudian terjadilah dialog :

Dragon Warrior : (Selesai melihat gerakan dari Sang Master) "Master Shifu, sedang melakukan gerakan jurus apakah tadi?"

Master Shifu: "Ini adalah jurus terakhir yang diajarkan Master Oogway sebelum dia mangkat"

Dragon Warrior : "Wooowww.....keren banget Master. Boleh dong saya diajari jurus itu?"

Master Shifu : Bisa....bisa...kuncinya mudah. Hanya membangkitkan INNER PEACE dari diri kita".

Dragon Warrior : "Hmmmm....INNER PEACE? Apa itu Master?"

Master Shifu : "INNER PEACE adalah suatu kondisi sehingga kita bisa berdamai dengan diri sehingga apapun tantangan yang ada bisa dihadapi dengan INNER PEACE"

Subhanallah.....sebuah penggalan kisah dari Film Kartun karya Walt Disney berjudul "Kung Fu Panda 2" yang mengajarkan kepada kita sebuah ilmu yang sangat Powerfull dalam menghadapi tantangan hidup.

Bahkan dalam kisah tersebut diceritakan ketika Sang Dragon Warrior dalam keadaan sedih karena baru saja tahu bahwa dia adalah anak yang terbuang dan keluarganya terbunuh oleh Klan Burung Merak, Sang Dragon Warrior ini mengalami peperangan dalam dirinya. Perang antara kesedihan, kemarahan dan kelapangan dada.

Dan baru bisa berdamai dengan dirinya ketika dia merelakan semua perasaan negatif itu mengalir bersama dengan pemaafan dan permakluman atas semua yang telah terjadi.

*****

Yah, dalam ilmu Hypnotherapy kita mengenal teknik terapi yang bernama Forgiveness Therapy. Sebuah teknik yang ternyata tidak hanya bisa memaafkan segala negatif emosi, namun juga menemukan dalam ketidaktahuan Pikiran Sadar bahwa ternyata mungkin kita masih ada yang "sesuatu" yang harus dibuat "let it flow" (seperti saran Sang Master dalam Kung Fu Panda 2).

Kadang kita merasa sudah tidak memiliki beban dalam hati karena merasa sudah memaafkan semua bahkan sudah bisa tersenyum dalam keseharian kita, namun ternyata masih ada pola tertentu yang kurang produktif dalam pencapaian Goal kita. Misalnya, ada yang tidak suka diatur, mungkin karena masa lalunya penuh oleh "aturan" dari orang tuanya. Padahal hidup yang sukses itu penuh jadwal yang teratur. Ada apa dengan kata "Atur"?

Bagaimana dengan Anda ? Apa yang terbersit dalam perasaan Anda ketika mendengar kata "diatur" atau "aturan"?

Nah, itu hanya salah satu contoh bahwa ternyata kita tetap perlu untuk secara rutin mengecek ke dalam Pikiran Bawah Sadar kita, adakah hal-hal yang di masa lalu kita "terprogram" secara tidak sengaja, yang sekarang menjadi kurang produktif?

Mungkin program dari orang tua yang mengatakan, "Kalau bertemu orang yang tidak dikenal, jangan ajak berbicara, diam saja!", adalah program yang efektif di masa kita kecil agar terhindar dari penculikan. Namun apakah program tersebut menjadi produktif ketika kita menjadi seorang Marketing misalnya?

Untuk itulah kita perlu untuk secara rutin menanyakan ke dalam Pikiran Bawah Sadar kita, apakah masih ada hal-hal yang perlu dilakukan reinstalling (pemrograman ulang)?

Dan ketika perdamaian dengan diri (INNER PEACE) tercapai maka kita menjadi BAHAGIA dan Peka terhadap hal-hal yang lembut......Digambarkan dalam Film Kung Fu Panda 2, ketika Sang Dragon Warrior bisa menguasai INNER PEACE, dia bahkan bisa memegang butiran air hujan tanpa air tersebut pecah ketika menyentuh kulitnya.
Sampai Sang Dragon Warrior dalam ketinggian penguasaan INNER PEACEnya, bisa membelokkan tembakan bola api oleh meriam musuh tanpa terluka...!!!!

Demikian, semoga kita semua diberikan ilmu dan kemampuan untuk berdamai dengan diri kita sehingga keBAHAGIAan itu benar-benar terasa, terlihat dan terdengar di kehidupan kita.

Wassalaamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh